Sejarah Industri Baju Distro

Sejarah Industri Baju Distro – Distro dan industri clothing kini sudah menjadi industri besar meskipun pelakunya banyak yg berskala kecil atau amat kecil. Menurut Fiki, setidaknya terdapat 400 industri clothing dan kaos distro di Bandung dgn omzet Rp 25 miliar per bulan. Distro pun sudah menyebar di 94 kota di Indonesia.

Mode indie di Indonesia memiliki beberapa kemiripan dgn apa yg terjadi di Barat atau di Jepang. Komunitas anak muda yg merasa tak terwakili identitasnya oleh mode utama dan jaringan ritel besar mencari jawaban dgn modenya sendiri.

Di Tokyo lahir gaya Harajuku yg terbagi menjadi belasan subgaya. Di Barat lahir beatnik pada tahun 1950-an, hippie pada 1960-an, dan punk pada 1980-an dgn subgaya seperti skinhead, hardrock, dan heavymetal.

Kaos atau Baju Distro Gaya hippie mencirikan diri mereka dgn baju motif berbunga, baju dgn jurai di bagian tepi, dan rambut panjang, sementara punk menegaskan identitas mereka melalui rantai, jins koyak, serta rambut berdiri dan dicat pucat.

Mereka sengaja menjaga jarak dan membedakan diri dari kelompok budaya utama di masyarakat. Meskipun kelompok ini ada dari kelompok minoritas, tetapi di Barat motornya adalah anak muda kelas menengah (Fred Davies, 1994, Fashion, Culture, and Identity).

Meski begitu, pada pergantian abad ke-20, arus utama mode mulai mengadopsi berbagai gaya yg berasal dari pinggir, yg ”liyan”. Desainer muda yg muncul pada era itu, entah karena mengalami sendiri atau karena melihat, dan ingin muncul dgn ”gaya berbeda” lalu mengadopsi gaya berpakaian ekstrem itu, seperti Jean-Paul Gauliter dan Vivienne Westwood pada awal karier mereka. Kini, keduanya adalah desainer dan pengusaha mode besar di arus utama.

Save

Comments are closed.