Wisata Kota Tua Cirebon

Wisata Kota Tua Cirebon – Kota tua dan kota budaya bukanlah hasil rekayasa seketika. Perlu proses menahun bahkan ratusan tahun untuk menjadikannya kota dengan potensi wisata budaya. Beragam budaya lahir, mengakar dan yang tak terhindarkan, berasimilasi dengan budaya pendatang. Sejatinya, kota yang terletak di Jawa Barat ini adalah kota tua peninggalan sejarah pantai utara, Cirebon.

Jejak-jejak proses perpaduan budaya itu tampak kasat mata pada pilar-pilar bangunan keraton kasepuhan, juga di pernak-pernik pembangun gedung anggun berusia ratusan tahun ini. Budaya China, Belanda, dan akar Jawa yang kuat tampil berdampingan serasi di Keraton Kesultanan Cirebon.

Jumat. Bukan hanya Yogyakarta ataupun Solo yang memiliki Keraton dengan arsitektur yang menawan, Cirebon pun menyimpan kekayaan budaya dan sejarah lewat Keraton Kasepuhan Cirebon. Pengaruh arsitektur dari Cina dan neo klasik Jawa, memberikan warna paduan yang menawan bagi keraton. Ada tiga periodisasi perkembangan arsitektur di Cirebon. Pertama pada masa Islam, masa kolonialisme dan masa modern.

Selain kemegahan arsitektur keraton, kejayaan Kesultanan Cirebon bisa anda saksikan dari Kereta Kencana yang terparkir di salah satu sudut Keraton Kasepuhan Cirebon.

Referensi menarik lainnya yang patut dikunjungi wisatawan adalah  Gua Sunyaragi. Lokasinya tak jauh dari Keraton, tepatnya, di Kelurahan Graksan, sekitar lima kilometer dari jantung kota Cirebon.

Menilik arsitektur gua sunyaragi lebih tepat disebut Taman Sunyaragi. Taman Sunyaragi dibangun pada tahun 1703. Kata Sunyaragi sendiri melekat pada taman ini bukan tanpa arti. Sunya artinya sepi dan ragi tak lain adalah raga.

Taman ini, memang diperuntukan bagi sultan untuk menjauh dari keramaian duniawi, bersemedi, untuk memperkuat ruhani dalam jasmani sebagai pemimpin di masa itu.

Penempatan gua sungguh teratur, dengan fungsi yang sudah dirancang dengan baik. Ada sekitar dua belas gua yang ada di Taman Sunyaragi ini, dengan fungsinya masing-masing.

1. Bangsal Jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih.
2. Gua Pengawal, titik berkumpul para pengawal sultan.
3. Gua Pande Kemasan, pusat pembuatan senjata tajam.
4. Gua Simanyang, sebagai pos penjagaan.
5. Gua Langse, anjungan untuk bersantai.
6. Gua Peteng, tempat menyepi sultan untuk mendapatkan kekebalan tubuh.
7. Gua Arga Jumud diperuntukan bagi tamu penting keraton.
8. Gua Padang Ati, menjadi tempat bersemedi.
9. Gua Kelanggengan, sultan bersemedi di sini dengan tujuan mendapat keridhaan tetap langgeng kedudukannya.
10. Gua Lawa, gua yang dipenuhi kelelawar.
11. Gua Pawon, tempat menyimpan makanan atau dapur.
12. Mande Beling, menjadi tempat peristirahatan sultan.

Taman Sunyaragi ini sesungguhnya merupakan taman air. Tekstur gua yang terbuat dari batu karang  memiliki pori-pori atau lubang-lubang, untuk menampung air. Sunyaragi juga dipercantik dengan hiasan patung.

Sabtu. Wisata budaya, di Cirebon belum “mahteh”, begitu kata orang, kalau belum singgah di makam Sunan Gunung Jati, satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia. Kompleks Astana Gunung Jati, menjadi salah satu daya tarik wisata culture tourism Cirebon.

Makam wali bernama asli Syarif Hidayatullah ini mashyur dan dihormati. Kompleks ini nyaris tak pernah sepi peziarah. Mengingat jasanya lah Islam menyebar di wilayah Jawa Barat.

Menuju pintu masuk peziarah, tampak lapak-lapak yang menjual kebutuhan para peziarah, aneka bunga setaman, menyan, juga pernak-pernik lainnya.

Di pintu masuk areal makam, kita akan menjumpai sejumlah penjaga pintu masuk ke areal makam. Tidak dikenakan tarif masuk, hanya saja, sedekah semampu peziarah. Dana tersebut akan dimanfaatkan kemudian untuk merawat Astana Sunan Gunung Jati.

Di dalam kompleks pemakaman, terlihat Balemangu Majapahit dengan bentuk berundak, dan lebih ke dalam, terdapat balemangu yang lebih besar yaitu Balemangu Padjajaran. Balemangu sendiri adalah bale-bale, tempat raja bersantai.

Suara peziarah melantunkan doa di depan pintu makam Sunan Gunung Jati santer terdengar. Di lokasi inilah para peziarah dipandu seorang guide, berdoa di depan pintu makam Sunan Gunung Jati.

Makam Sunan Gunung Jati berada di Bukit Gunung Sembung dan hanya boleh dimasuki oleh keluarga keraton serta juru kunci, sebagai petugas harian yang merawat makam. Para peziarah hanya diizinkan berdoa di depan pintu gapura makam.

Rupa-rupa perilaku peziarah,selain memanjatkan doa, ada yang melempar koin ke pagar pintu makam, ada yang membakar kemenyan sebelum memulai berdoa, bahkan ada yang menangis di pintu makam.

Dalam kompleks makam Sunan Gunung Jati juga terdapat kompleks makam warga tionghoa sebelah barat serambi muka yang dibatasi oleh pintu mergu. Letaknya sengaja terpisah agar peziarah warga tionghoa dapat melakukan ritual ziarah tersendiri, tanpa terganggu dengan pengunjung makam.

Berwisata di satu daerah, rugi rasanya kalau tidak mencicipi makanan khas daerah yang kita kunjungi. Salah satu kuliner sedap di Cirebon adalah empal gentong. Anda bisa memilih tempat di dekat stasiun milik Putra Mang Darma.

Ingin tahu apa yang menjadi rahasia kelezatan Empal Gentong? Karena dimasak di dalam gentong lah yang membuat masakan Cirebon ini memiliki cita rasa yang lezat.

Anda bisa berkunjung ke Desa Gerabah Sitiwinangun untuk melihat langsung proses pembuatan gentong. Bergerak dari kota Cirebon, sekitar 15 km ke arah barat, sampailah Anda ke Desa Gerabah Sitiwinangun.

Sitiwinangun berasal dari bahasa jawa yang berarti tanah yang dibentuk. Siti adalah tanah dan wangun adalah bentuk.

Masyarakat desa sudah melakukan tradisi membuat kerajinan sejak lama, karena mudahnya mendapatkan bahan baku tanah liat. Uniknya, tanpa perlu mengolah, tanah liat Desa Sitiwinangun sudah memenuhi syarat sebagai bahan baku gerabah.

Oya Anda juga bisa ikut serta membuat gerabah Anda sendiri loh.

Menikmati datangnya senja, cobalah bergeser ke arah Kuningan, menuju kawasan Gronggong. Di malam minggu sepertinya lokasi ini menjadi pilihan para muda-mudi.

Minggu. Mencicipi sedapnya empal gentong, ceklis, daftar berikutnya adalah mencari buah tangan alias oleh-oleh. Mampirlah ke Desa Wisata Belanja, Desa Trusmi. Trusmi adalah sebuah desa di Kecamatan Plered kabupaten Cirebon, 5 km dari pusat kota. Terdapat 3.000 perajin batik di trusmi yang menawarkan batik khas Cirebonan.

Salah satu toko yang menawarkan batik-batik cantik adalah Toko Batik Edi Baredi. Butik ini bahkan menjadi salah satu primadona wisata belanja yang terletak di Jalan Panembahan, Desa Trusmi. Beragam batik bisa Anda pilih, tak hanya motif, tapi juga kualitas dan kisaran harganya. Dari kain harga Rp 35 ribu sampai dengan yang jutaan rupiah.

Di sini Anda akan jumpai motif khas Cirebon, mega mendung, sampai dengan yang kontemporer, seperti batik dengan motif ikan senilai Rp 1,2 juta. Selain kain, ada juga batik-batik yang sudah berbentuk pakaian jadi, untuk pria dan perempuan dewasa sampai anak-anak. Batik fungsional seperti tas, atau taplak meja, tak ketinggalan asesoris unik.

Puas pilah-pilih belanjaan, hadiahkan diri Anda dengan relaksasi di Grage Sangkan Hotel, sebelum menempuh perjalanan pulang ke Jakarta. Hotel nan asri dengan konsep ekowisata, kembali ke alam, menawarkan beragam fasilitas liburan keluarga, sekaligus kenyamanan nan mewah. Salah satunya adalah kolam air hangat.

Air di kolam ini memang tidak sejernih kolam air biasa, namun air ini mengandung 60 persen sodium yang terbukti secara medis, baik untuk kesehatan kulit.

Save

Comments are closed.